Kanker, Mengapa Aku?

Posted on
Kesal… capek… menguras emosi. Begitulah perasaan ketika harus mempresentasikan kegagalan dalam sebuah rapat yang dihadiri berbagai macam pihak. Semburat matahari pagi dari balik gedung di lantai 26 berubah seperti lampu sorot di panggung bagi saya yang tengah berdiri dikelilingi tatapan mata yang siap memangsa. Mereka siap menunjukkan segala kesalahan tim yang saya pimpin dari sudut pandang mereka masing-masing yang semuanya sesungguhnya sudah kami sadari sejak awal karena penyebab kesalahan bukan sama sekali kami ciptakan dan sungguh di luar kekuasaan tim kami.

Sharing Session

Tapi sudahlah, sebagai pemimpin tim saya tetap harus menyampaikan proses kegagalan dan dengan besar hati harus menerima tudingan apa pun meski tak layak menerima hal itu. Kritikan, sindiran, dan nasihat berujung pada simpulan bahwa saya harus bertanggung jawab pada apa yang sudah terjadi.

Ketika semua peserta rapat bubar, tinggal saya menatap lepas ke arah jendela, mencoba tersenyum pada pantulan cahaya, me’release’ segala penat ketidakadilan. Kadang dunia dipenuhi pada hal yang tak sanggup kita hentikan dan hal itu bisa menggilas pencapaian kita tanpa ampun.

Di tengah kepenatan menjelang siang itu, tatapan saya tertumbuk pada gedung yang menjulang sejajar dengan gedung yang saya tapaki. Gedung yang berdiri kokoh dengan kaca-kaca jendela berwarna kebiruan dan mengingatkan saya pada seseorang. Tanpa makan siang, saya bergegas menuruni gedung lalu menyeberang dan memasuki lobi yang semula hanya saya tatap dari lantai 26 di gedung seberang. Kepada resepsionis di sisi kiri pintu lobi, saya bertanya tentang seseorang yang ingin saya kunjungi dan ia menunjukkan secarik kertas kecil untuk saya bawa. Saya menyentuh tombol lift ke lantai 22 yang siang itu kebetulan kosong dan tak ada orang lain. Ruangan serbahijau saya masuki dan lorong menuju satu ruangan berisi enam tempat tidur menyambut tubuh saya yang berangsur segar karena hembusan mesin tata udara yang lembut.

“Assalamualaikum!” saya ucapkan salam dari balik tirai yang menutup sekeliling tempat tidur. Sekilas saya melihat seseorang tergolek tidur dengan kepala tanpa rambut sama sekali. Seorang penjaga perempuan datang menghampiri dan saya meminta izin untuk berkunjung. Tirai terbuka dan seorang perempuan di tempat tidur yang kali ini telah berhijab menyambut saya dengan tatapan yang coba mengenali. Saya tersenyum, kelelahan dan rasa sakit menahan wajahnya untuk tersenyum. Saya duduk di tepi tempat tidur untuk bisa lebih dekat dan bisa mendengar suaranya.

“Maaf ya mengganggu tidur kamu!” sapa saya. Ia mulai tersenyum dan mengangguk tanda berterima kasih. Dalam lirih suara yang terganjal dua manifold selang oksigen, sahabat saya bercerita betapa dirinya sedang berusaha menahan sakit akibat kemoterapi yang beberapa jam sebelumnya dia jalankan. Perutnya mual dan siang itu ia tak mampu menelan makanan.

Kanker rahim yang terdeteksi sejak hampir lima tahun lalu telah membawanya pada rangkaian cobaan bertubi-tubi dan bermuara pada hari di mana saya berkunjung. Sel kanker sudah menyentuh paru-parunya hingga tak bisa lepas dari selang oksigen untuk membantu napasnya.

Hari demi hari ia lalui dengan penuh pertanyaan kepada Tuhan kenapa hal ini terjadi, kenapa tubuhnya harus dihinggapi penyakit yang tak ia kehendaki. Pada alasan yang tak ingin saya ketahui tentang perpisahannya dengan sang suami, ia bersyukur dikaruniai seorang anak lelaki yang dengan gagah berani melawan semua cobaan ibunya dengan usaha dan doa dan selalu setia mendampingi. Hari-hari kuliah sang anak di satu perguruan tinggi negeri tak dilalui selayaknya anak-anak lain yang bisa berkonsentrasi pada kuliah yang ditempuhnya. Mencari uang untuk dua hal, yaitu kuliah dan pengobatan ibunya, menjadikan ia seorang anak yang mampu dewasa dengan sendirinya.

“Bagaimana perkembangan terakhir kankermu menurut dokter?” tanya saya. Ia menggeleng dan memang tak ingin mengetahuinya.

“Semakin aku mengetahuinya semakin panjang juga kekhawatiranku untuk menjalankan sisa pengobatannya. Lebih baik aku tak mengetahuinya sama sekali dan terus menjalani pengobatan sampai aku tak kuat lagi menjalaninya,” jelasnya.

“Apa yang membuat kamu kuat seperti ini?” tanya saya. Matanya mulai berkaca-kaca dan dari mulutnya keluar kalimat bersyukur karena memiliki anak lelaki yang begitu gigih berjuang untuk dirinya.

“Dia yang tahu bagaimana menenangkan hati ibunya. Dia yang memberi kekuatan untuk ibunya agar tidak memikirkan biaya yang sudah dikeluarkan, dia yang rela memanfaatkan waktu saat mengunjungi ibunya di pagi dan sore hari dengan mendaftar ke taksi online bersama mobil yang dipinjamkan oleh kerabatnya. Dia luar biasa!” Saya bisa merasakan getaran itu, merasakan bahwa harapan seorang ibu mengiringi dalam doanya setiap waktu agar sang anak bisa diberi kekuatan, kesehatan, dan rezeki bukan untuk diri sang ibu tetapi untuk kebaikan sang anak itu sendiri.

“Kalian berdua diciptakan Allah untuk menjadi satu tim yang hebat. Tim yang diuji oleh sebuah kegagalan yang tidak dikehendaki, yaitu penyakit, kegagalan yang kadang bukan dari diri kita sendiri, tetapi karena faktor yang diciptakan oleh hal lain. Allah akan membawa kalian berdua menuju surga yang dijanjikan, Surga yang harus dibayar dengan cobaan. Saya berdoa agar kalian berdua bisa melalui semua ini dengan baik sampai Allah memberi putusan yang terbaik,” saya menatap sahabat saya sejak SMA itu dengan erat dan mencoba memberinya harapan.

“Terima kasih doanya!” matanya berkaca-kaca.

Siang itu sesungguhnya saya bukan sedang mengunjungi sahabat yang tengah sakit, tetapi saya sedang mengunjungi seorang penyembuh yang bisa menghilangkan kegundahan saya pada apa yang disebut Kegagalan. Apa yang saya hadapi pada pagi hari sebelum bertemu dengannya adalah tak seberapa dibandingkan dengan apa yang dialami olehnya.

Kanker adalah sesuatu yang tidak diketahui asal usul pastinya. Ia datang begitu saja tanpa memberikan kesempatan kita untuk berdebat mengapa ia harus datang. Dari kanker saya menemui sekian banyak sahabat yang sabar menerimanya, sabar melawannya dan mendapatkan sekian banyak dukungan dari orang-orang di sekelilingnya.

Hari-hari selanjutnya, Allah akan terus menempa seorang anak lelaki dengan berbagai cobaan yang dititipkan lewat penyakit ibunya. Keduanya membentuk satu tim yang hebat karena merujuk pada ayat-ayat Allah yang tak lagi mesti ditafsirkan berdasarkan kepentingan.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Sesungguhnya jawaban persoalan tak perlu dicari sampai jauh, cukup menyeberangi dua gedung yang saling berhadapan. Terima kasih buat sahabat saya, Sri Prasanti Saptorini, atas pelajaran ini. Semoga Allah segera mengangkat penyakitmu, memberi yang terbaik pada dirimu dan keturunanmu di dunia dan diakhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *